Ingatan Tersisa di 100 Tahun Kelahiran Yohanes Paulus I

Kala itu naluri saya untuk mengetahui jejalan seputar kehidupan vatikan begitu tinggi. Saat di mana buku-buku mengenai satu negara kecil di wilayah pemerintah Italia ini masih terhitung langkah di benakku. Yang ada hanyalan segelintir buku-buku usang yang berisikan kisah cerita rohani dari beberapa Paus.

Namun di antara sekian buku yang ada hanya satu yang terus saya ingat hingga kini. Buku berjudul “Demi Allah” yang merupakan terjemahan dari judul aslinya “In God’s Name” karya David Yallop yang kalau ga salah buku ini  pernah menjadi bestseller di pasaran bebas Eropa.

Buku IN GOD’S NAME yang diterjemahkan menjadi DEMI ALLAH .. !, semata-mata hanyalah pendapat seorang DAVID YALLOP sebagai pengarang yang menyajikan sebuah ‘novel’, dan bukan berasal dari suatu kelompok tertentu baik yang memihak ataupun yang memusuhi Gereja Katolik.

Buku ini secara khusus mengupas mengenai kabut di balik matinya Paus Yohanes Paulus I. Paus Yohanes Paulus I sendiri lahir di Dolomite, utara Venesia, Canale d’Agordo, Italia, 17 Oktober 1912  dan meninggal di Istana Apostolik, Vatikan, 28 September 1978 pada umur 65 tahun), (dalam bahasa Latin Ioannes Paulus PP. I).

Paus Yohanes Paulus I dilahirkan dengan nama Albino Luciani, adalah seorang Paus Vatikan. Masa pengukuhannya sebagai pimpinan gereja berawal ketika Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai patriak di Venesia kemudian sebagai kardinal.

Namun kisah mistik dialami oleh Beliau sendiri dalam pengalaman empirisnya terutama pasa salah satu kunjungan Paulus VI ke Venesia. Saat itu Paus Paulus VI meletakkan stolanya di atas bahu Yohanes Paulus.

Peristiwa tersebut diingatnya kembali dalam pidato singkatnya dari balkon St. Petrus sesaat setelah ia terpilih sebagai Paus Yohanes Paulus I. Terpilih pada 26 Agustus 1978. Penempatan stola itu diinter-prestasikan sebagai tanda keinginan dan ramalan atas diri Albino Luciani. Ia seorang yang sangat sederhana dan rendah hati, cara hidupnya seperti pastor paroki sehingga ia disebut “Paus murah senyum”.

Berkenaan dengan doktrin posisinya sangat jelas dan tradisional. Sebagai seorang kardinal misalnya, ia dengan kukuh melawan perceraian dan membubarkan sejumlah kelompok gereja di keuskupannya yang menyetujui perceraian. Dengan cara yang sama ia sangat ketat terhadap orang-orang Katolik yang tidak setuju perceraian. Hanya ada satu iman Katolik dan harus mengikuti arah otoritas Gereja. Sebagai paus programnya yang dikumandangkan ialah doa, disiplin dalam Gereja dan kesetiaan pada Konsili Vatikan II.

Dengan rendah hati dan sederhana, ia tidak memperlihatkan keasliannya dan ide-idenya ketika naik ke Takhta Kepausan. Kenyataannya, ia menolak kursi kepemimpinan dan tiara, lambang kekuasaan duniawi, juga tidak mau dimahkotai.
Kematiannya yang mendadak karena serangan jantung merupakan sebuah pukulan besar yang membuat setiap orang terkejut dan menimbulkan bermacam-macam penafsiran.

Bahkan sekarang ini peristiwa itu dikatakan bahwa ia baru saja mempunyai waktu untuk memberikan kepada dunia suatu pandangan sekilas tentang kepemimpinanya akan seperti apa, tetapi semuanya cukup untuk membangkitkan antusiasme, harapan serta memberinya suatu tempat di hati semua orang. Masa kepausannya yang hanya berlangsung tiga puluh tiga hari telah meninggalkan kesan tak terhapuskan kepada gaya Kepausan modern. Ia wafat pada 28 September 1978 dan dimakamkan di grotto Vatikan.

Ia bekerja sebagai paus dan sebagai pemimpin Kota Vatikan dari 26 Agustus 1978 sampai 28 September 1978. Jabatan Paus yang hanya dipegangnya selama 33-hari adalah salah satu masa jabatan terpendek dalam sejarah Kepausan, sehingga dalam satu tahun terdapat tiga Paus yang berbeda. Meninggal sebelum ia dapat meninggalkan warisan dari kepemimpinannya sebagai seorang paus, dia diingat karena keramahannya dan rendah-hatinya, dapat dibandingkan dengan “Paus Yohanes yang Baik”, Paus Yohanes XXIII yang juga populer.

Dia merupakan paus pertama yang memilih sebuah nama ganda dan melakukannya untuk menghargai kedua pendahulu di atasnya. Paus Yohanes XXIII dan Paus Paulus VI. Dia juga Paus pertama (dan sejauh ini satu-satunya) yang menggunakan “pertama” dalam nama regnalnya.

Namun pada akhirnya sejarah kepausan Roma berganti seiring dengan kematiannya. Sejak bulan Oktober 1978 Paus Yohanes Paulus-II menduduki Tahta Vatikan, menggantikan PAUS YOHANES PAULUS-I yang pada malam-buta tanggal 28 September atau pagi subuh tanggal 29 September 1978 meninggal dunia. Hal itu berarti hanya 33 hari setelah terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Paulus VI.

Maka dari itu wajar bila timbul pertanyaan di benak banyak orang: “Apa penyebab-utama wafatnya Paus Yohanes Paulus-I??” Haruslah diakui bahwa fakta-wafatnya Paus Yohanes Paulus-I (nama aslinya: Albino Luciani) banyak diselimuti kabut-misteri.

Banyak orang menduga, seorang di antaranya DAVID YALLOP si Pengarang, bahwa pelaku-pembunuhan dengan racun terhadap beliau ini adalah justru para Pembantu-Terdekatnya, yang telah bekerjasama dengan Mafia.

Berdasarkan pengamatannya, si Pengarang menarik kesimpulan sementara bahwa para Pembantu-Terdekat Sri Paus sampai melakukan perbuatan segila itu, kiranya tidak lain karena mereka merasa terancam oleh TEKAD DAN SEPAK TERJANG PAUS YOHANES PAULUS-I yang mau menciptakan Aparat Pemerintahan Vatican yang bersih dari segala macam noda korupsi dan manipulasi. Beliau ingin membawa Gereja kembali kepada semangat aslinya sebagai Gereja-yang-Miskin untuk kaum miskin.

Tetapi dalam perjalanan sejarah yang panjang, semua pertanyaan itu akhirnya terjawab. Dewan kesantoan Vatikan secara resmi menyatakan bahwa kematian Paus Yohanes Paulus I memang meninggal karena serangan jantung.

Hal ini dikarenakan Monsinyur Enrico dal Covolo menyebut dokumen dan 167 kesaksian yang didapatkannya diserahkan kepada Vatikan. Dokumen itu secara pasti membuang jauh-jauh teori konspirasi seputar kematian Paus Yohanes Paulus I.

Paus Yohanes Paulus I itu sesungguhnya dipandang sebelah mata oleh kaum Katolik Roma karena latar belakangnya yang berasal dari ordo Fransiscan serta dia menolak menerima keistimewaan. Pada Rabu (17/10) adalah peringatan 100 hari tahun kelahirannya.

Dia meninggal hanya 33 hari setelah dia memerintah sebagai Paus khususnya pada 28 September 1978. Salah satu testimony menyebutkan sewaktu terpilih menjadi Paus, kesehatan Yohanes Paulus memang sudah buruk.

Dokumen dan kesaksian itu mempertegas bahwa Paus Yohanes Paulus I meninggal karena sakit dan bukannya diracun. “Benedict XVI sangat kuat mendukung dalam hal ini,” kata dal Covolo.

Kematian seseorang memang tidak dapat dielakkan, apalagi kalau kematian orang penting yang meninggal dengan tidak wajar. Namun, sebelum kematian itu datang menjemput kita, apa yang sudah kita lakukan untuk dunia ini? Itu pertanyaan penting yang perlu dijawab.

Catatan: Tulisan ini adalah Doaku di hari kelahiran Paus

About these ads

2 gagasan untuk “Ingatan Tersisa di 100 Tahun Kelahiran Yohanes Paulus I

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s